Kasus

Japan – Agricultural Product II

Amerika Serikat menggugat cara dari Jepang untuk mengenakan larangan impor atas produk-produk yang dapat membawa hama yang dikenal sebagai codling moth (Cydia pomonella). Jepang mewajibkan pengujian (testing) dan menunjukkan effiksasi dari karantina untuk tiap-tiap produk yang dapat membawa codling moth. Hanya sekali saja tidak lolos dalam pengujian maka larangan impor akan diberlakukan dan hal ini hanya untuk produk khusus yang dilakukan pengujian varietas. Larangan yang dipersoalkan ini dalam kasus disebut sebagai persyaratan pengujian varietas Jepang (Japan’s “varietal testing requirement”).
Pada 4 Mei 1950, Jepang mengundangkan Hukum Perlindungan Tumbuh-tumbuhan (the Plant Protection Law). Pasal 7 ayat (1) butir 1 peraturan itu menentukan bahwa Tumbuh¬-tumbuhan yang disebutkan dalam Ordonansi Menteri yang telah dikapalkan dari atau melalui distrik yang disebut dalam ordonansi itu dilarang untuk diimpor ke Jepang. Dengan ordonansi menteri tanggal 30 Juni 1950 (Plant Protection Law Enforcement Regulations) delapan produk yang berasal dari, antara lain, Amerika Serikat kecuali Kepulauan Hawai disebutkan sebagai tumbuh-tumbuhan terlarang. Produk-produk itu adalah: apricot, cherry, plum, pear, quince, peach, apple dan walnuts, yang diimpor sebagai buah-buahan segar. Kedelapan buah-buahan segar itu dilarang diimpor atas dasar bahwa buah segar itu adalah potensial menjadi pembawa codling moth. Ordonansi Menteri itu juga menyebutkan beberapa produk lain sebagai terlarang untuk diimpor karena mereka menjadi pembawa bagi hama yang lain. Namun demikian, terdapat kemungkinan untuk mendapatkan pengecualian terhadap larangan impor itu. Pengecualian–pengecualian sedemikian diberikan atas dasar varitas per varitas. Sejak tahun 1969, sejumlah varitas dari produk-produk tertentu, yang berasal dari daerah yang khusus, telah dikecualikan dari larangan impor. Sejak tahun 1978, larangan impor telah dikenakan terhadap varitas-varietas tertentu yaitu produk-produk dari Amerika Serikat yang dipersoalkan dalam kasus ini.
Untuk mendapatkan pengecualian dari larangan impor, Jepang mengenakan prosedur¬-prosedur berikut ini: Negara pengekspor harus mengajukan aturan alternatif yang ekuivalen dengan yang dikenakan larangan impor. Negara pengekspor harus membuktikan bahwa alternatif yang diajukan akan mencapai tingkat perlindungan yang layak. Jepang menyebut prosedur ini sebagai “fundamental policy orientation”. Kebijakan dasar itu belum dipublikasikan sebagai suatu dokumen. Dalam praktek alternatif yang diajukan adalah disinfestation. Berkaitan dengan pembawa codling moth, disinfestation terdiri dari fumigasi dengan Metil Bromida atau kombinasi dari Fumigasi dan cold storage (sebagaimana dipersyaratkan terhadap treatment yang disetujui oleh Jepang terhadap buah Apel). Sebagai model prosedur pengujian untuk konfirmasi, kementrian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Jepang mengembangkan dua pedoman, yaitu:
(1) the “Experimental Guideline for Lifting Import Ban – Fumigation” (Pedoman ini menjelaskan persyaratan pengujian yang dapat berlaku pada pengangkatan awal (initial lifting) dari larangan impor atas satu produk.)
(2) the “Experimental Guide for Cultivar Comparison Test on Insect Mortality – Fumigation”. Pedoman ini menentukan persyaratan pengujian untuk persetujuan atas Varietas tambahan dari produk itu. Pedoman yang kedua ini yang merupakan pokok sengketa.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s