Kasus

Japan-Apple

JAPAN – MEASURES AFFECTING THE IMPORTATION OF APPLES
Penggugat : Amerika Serikat
Tergugat : Jepang
Pihak Ketiga : Australia, Brazil, the European Communities, New Zealand and the Separate Customs Territory of Taiwan, Penghu, Kinmen and Matsu

Panel Report, Japan – Measures Affecting the Importation of Apples, WT/DS245/R, adopted 10 December 2003, upheld by Appellate Body Report WT/DS245/AB/R.

Kasus ini menyangkut aturan Phytosanitary yang diterima oleh Jepang dalam kerangka pengimporan buah apple dari Amerika Serikat. Hama yang hendak ditangkal dengan ketentuan-ketentuan dalam kasus ini adalah apa yang disebut sebagai “fire blight”, yang nama ilmiahnya untuk bakteri disebut sebagai Erwinia amylovora atau E. amylovora.
Buah-buahan yang diinfeksi oleh fire blight menyebarkan Lumpur bakteri atau inoculum , yang ditransmisikan terutama melalui angin dan/atau hujan dan oleh serangga¬-serangga atau burung-burung untuk membuka bunga pada tumbuh-tumbuhan host yang sama atau yang baru.
Bakteri E. amylovora menggandakan secara eksternal pada stigma-stigma dari bunga¬-bunga yang terbuka dan memasuki tumbuh-tumbuhan melalui berbagai pembukaan. Selain buah apple, host dari fire blight meliputi pears, quince, dan loquats, sebagaimana juga tumbuh¬-tumbuhan kebun lainnya. Bukti ilmiah yang didapatkan oleh Panel menunjukkan bahwa resiko dari pemasukan dan penyebaran fire blight bervariasi tergantung pada tumbuhan host-nya.

Peraturan Perundang-undangan Jepang yang relevan dalam sengketa ini:
• Plant Protection Law No. 151 enacted on 4 May 1950 (and specifically Article 7 thereof);
• Plant Protection Law Enforcement Regulations enacted on 30 June 1950 (and specifically Article 9 and Annexed table 2 thereof);
• Ministry of Agriculture, Forestry and Fisheries (MAFF) Notification No. 354 dated 10 March 1997; and
• MAFF “Detailed Rules for Plant Quarantine Enforcement Regulation Concerning Fresh Fruit of Apple Produced in the United States of America ” dated 1 April 1997.

Menurut Plant Protection Law dan the Enforcement Regulations, pengimporan tumbuh-tumbuhan induk untuk 15 hama, termasuk bakteri fire blight dan hama-hama dari padi yang tidak ditemukan diJepang adalah dilarang. Perundang-undangan Jepang itu mengiinkan Jepang untuk memutuskan atas dasar kasus per kasus untuk mengangkat larangan impor berkenaan dengan tumbuh-tumbuhan dan produk-produk menurut criteria tertentu yang teah ditetapkan oleh praktek sebelumnya. Kriteria-kriteria itu:

• Pengangkatan tunduk pada suatu proposal dari satu aturan alternative oleh suatu pemerintah Negara lain;
• Tingkat perlindungan yang diwajibkan dari aturan yang diajukan adalah sepadan dengan larangan impor; dan
• pemerintah Negara pengekspor harus membuktikan bahwa aturan yang diajukan mencapai tingkat perlindungan yang diwajibkan.
.
Paragraph 25 dari the Annexed List to Table 2 of the Plant Protection Law Enforcement
Regulations menentukan kondisi-kondisi menurut mana Apel AS dapat diimpor ke Jepang:: “buah segar dari apple yang dikapalkan dari AS secara langsung ke Jepang tanpa menghubungi setiap pelabuhan dan yang sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh Menteri Pertanian, Kehutanan dan Perikanan”. Standar yang relevan ditentukan oleh MAFF Notification No. 354 dan aturan-aturan yang lebih detail yang berkaitan. Aturan yang ditetapkan oleh Jepang itu terdiri dari 10 elemen yang harus diterapkan secara kumulatif, yaitu:
(a) Buah-buahan harus diproduksi dalam kebun bebas fire blight yang ditunjuk. Penunjukan daerah bebas fire blight sebagai kebun untuk mengekspor dilakukan oleh Departemen Pertanian Amerika Serikat (the United States Department of Agriculture (USDA)) atas permohonan dari pemilik kebun. Setiap pendeteksian adanya pohon yang terkena fire blight di daerah ini dalam pemeriksaan akan mendiskualifikasikannya dari kebun pengekspor. Untuk keperluan pada waktu aturan itu dibuat, penunjukan hanya diberikan pada kebun-kebun di Washington dan Oregon;
(b) kebun yang khusus untuk ekspor harus bebas dari tumbuh-tumbuhan yang diinfeksi dengan fire blight dan harus bebas dari tumbuh-tumbuhan host bagi fire blight selain apple apakah ia terinfeksi atau tidak;
(c) Kebun bebas fire blight harus dikelilingi oleh zona penyangga sepanjang 500 meter. Pendeteksian adanya pohon-pohon atau tumbuh-tumbuhan yang terkena fire blight di zona penyangga ini akan mendiskualifikasikan kebun pengekspor;
(d) Kebun yang bebas fire blight dan zona penyangga disekelilingnya harus diperiksa sekurang-kurangnya tiga kali setahun. Pejabat Amerika Serikat akan secara visual menginspeksi dua kali, pada tahapan pertumbuhan dan pada masa berbuah, daerah pengeksporan, zona penyangga untuk setiap simptom dari fire blight. Pejabat-pejabat Jepang dan Amerika Serikat akan secara bersama-sama melakukan pemeriksaan secara langsung di tempat pada masa pemanenan. Pemeriksaan tambahan diwajibkan jika terjadi badai seperti hujan es yang disertai angin ribut.
(e) Apple yang dipanen harus diperlakukan dengan permukaan yang didisinfeksi dengan merendamnya dengan solusi sodium hypochlorite;
(f) Kontainer untuk pemanenan harus didisinfeksi dengan chlorine treatment;
(g) interior dari fasilitas pengepakan harus didisinfeksi dengan chlorine treatment;
(h) buah-buahan yang ditujukan ke Jepang harus dipisahkan dari buah-buahan lain setelah dipetik;
(i) Pejabat-pejabat pada Perlindungan Tanaman Amerika serikat harus mensertifikasikan bahwa buah-buahan adalah bebas dari fire blight dan telah ditreatment dengan chlorine setelah dipetik.
(j) Pejabat Jepang harus mengkonfirmasikan sertifikasi yang dilakukan oleh Pejabat Amerika Serikat dan Pejabat Jepang harus melakukan pemeriksaan pada fasilitas pengepakan.

1 AS memajukan klaim dalam kasus ini sebagai berikut:
(a) Aturan Jepang mengenai apple AS adalah bertentangan dengan Pasal 2.2 Perjanjian SPS karena mereka “dipelihara tanpa bukti ilmiah yang cukup;
(b) Aturan Jepang mengenai APEL AS bertentangan dengan Pasal 5.1 Perjanjian SPS karena mereka tidak didasarkan pada penilaian resiko;
(c) karena gagal memperhatikan informasi tertentu dalam penilaian resikonya, Jepang telah bertindak bertentangan dengan Pasal 5.2 Perjanjian SPS;
(d) Aturan-aturan Jepang adalah bertentangan dengan Pasal 5.6 Perjanjian SPS karena merea lebih menghambat perdagangan dari yang dipersyaratan untuk menjapai tingkat perlindungan yang layak nya;
(e) Jepang telah gagal menotifikasi perubahan-perubahan pada atutan-aturannya mengenai fire blight dan menyediakan informasi sebagaimana diwajiban oleh Pasal 7 dan Annex B Perjanian SPS;

IX. Kesimpulan dari Panel
9.1 Sesuai dengan temuan-temuannya dalam proses penyeesaian sengketa, menyimpulkan:
(a) Jepang, karena memelihara aturan kesehatan tumbuh-tumbuhhannya yang menjadi persoalan, melanggar Pasal 2.2 Perjanjian SPS untu tidak memelihara aturan-aturan kesehatan tumbuh-tumbuhannya “tanpa bukti ilmiah yang cukup, kecuali sebagaimana ditentukan dalam ayat 7 Pasal 5″;
(b) aturan kesehatan tumbuh-tumbuhan yang menjadi persoalan tidak memenuhi persyaratan dalam Pasal 5.7 Perjanjian SPS bahwa bukti ilmiah yang relevan adalah tidak cukup untuk membenarkan penerapan aturan-aturan kesehatan tumbuh-tumbuhan tersebut sebagai aturan yang disahkan secara provisional; dan 4
(c) aturan esehatan tumbuh-tumbuhan yang menjadi persoalan tidak didasarkan pada suatu penilaian resiko dalam pengertian dari Pasal 5.1 Perjanjian SPS
.
9.2 Pasal 3.8 DSU menentukan bahwa “dalam kasus-kasus dimana terdapat pelanggaran atas kewajiban-kewajiban yang dilakukan di bawah perjanjian yang dicakup(termasuk Perjanjian SPS), tindakan itu dipertimbangkan sebagai ak terbantahkan menandakan suatu kasus penghapusan atau pengurangan”. Panel mencatat bahwa Jepang telah gagal mematahkan anggapan ini. Panel menyimpulkan bahwa, sejauh Jepan sudah bertindak secara bertentangan dengan Perjanjian SPS, ia telah menghapuskan atau mengurangi manfaat-manfaat yang diberikan kepada AS di bawah Perjanjian SPS.
9.3 Panel merekomendasikan kepada DSB unuk meminta Jepang membawa atturan kesehatan tumbuh-tumbuhannya pada kesesuaian dengan kewajiban-kewajibannya menurut Perjanjian SPS.

V. Permasalahan hukum yang diajukan daIam banding
129. Jepang mengajuan empat permasalahan menyangut esimpulan yang disampaian Panel, yaitu bahwa:
(i) keliru dalam temuan bahwa aturan kesehatan tumbuh-tumbuhan Jepang adalah “dipelihara tanpa bukti ilmiah yang cukup” dan leh arenanya bertenangan dengan kewajiban-kewajiban Jepang menuru Pasal 2.2 Perjanjian SPS;
(ii) keliru dalam menemukan bahwa aturan kesehatan tumbuh-tumbuhan Jepang adalah bukan suau auran provisional menurut Pasal 5.7 karena aturan itu dikenakan berenaan dengan suatu situasi dimana “bukti ilmiah yang relevan adalah tidak cukup”;
(iii) keliru dalam penemuannya bahwa aturan kesehatan tumbuh-tumbuhan Jepang tidak didasarkan pada suatu penilaian resiko, sebagaimana didefenisikan dalam A pada Perjanjian SPS, dan sebagaimana diwajibkan oleh Pasal 5.1 Perjanjian SPS; dan
(iv) gagal memenuhi kewajibannya menurut Pasal 11 DSU karena Panel tidak melakukan penilaian yang objektif atas fakta-fakta dari kasus”.
130. Sebagai tambahan atas klaim-klaim Jepang dalam banding, AS mengajukan banding silang atas Panel Reportt, mengklaim bahwa Panel tidak mempunyai wewenang untuk membuat temuan-temuan dan menarik kesimpulan-kesimpulan berkenaan dengan apel yang belum maang (immature apples) karena AS telah membatasi klaimnya di hadapan Panel hanya pada apel matang (mature apples).

Atas masalah-masalah yang dajukan dalam banding, Appellate Body membuat temuan-temuan:
(a) menemukan bahwa Panel mempunyai “wewenang” untuk membuat temuan-temuan dan menarik kesimpulan-kesimpulan berkenaan dengan semua buah apel dari Amerika Serikat, termasuk buah apple mentah (immature apples);
(b) menguatkan temuan-temuan Panel, dalam paragraphs 8.199 dan 9.1(a) dari Panel Report, bahwa aturan kesehatan tanaman Jepang yang menjad persoalan dipelihara “‘tanpa bukti ilmiah yang cukup” dalam pengertian dari Pasal 2.2 Perjanjian SPS;
(c) menguatkan temuan Panel, dalam paragraphs 8.222 dan 9.1(b) dari Panel Report, bahwa aturan kesehatan tanaman Jepang yang dipersoalkan tidak dikenakan berkaitan dengan suatu situasi “dimana bukti ilmiah yang relevan tidak cukup”, dan, oleh karenanya, bahwa ia bukanlah aturan provisional yang dapat dibenarkan d bawah Pasal 5.7 Perjanjian SPS;
(d) menguatkan temuan-temuan Panel, dalam paragraph 8.271, 8.285, dan 8.290 Panel Report, bahwa 1999 Pest Risk Analysis Jepang tidak memenuhi defenisi penilaian resiko (risk assessment) sebagaimana ditentukan dalam ayat 4 Annex A pada Perjanjian SPS karena ia (i) gagal mengevaluasi kemungkinan masuk, pembentukan atau penyebaran penyakit tumbuhan yang menjadi persoalan, dan (ii) gagal melakukan evaluasi sedemikian “menurut aturan-aturan SPS yang dapat dterapkan”. Selanjutnya, Appellate Body menguatkan temuan-temuan Panel dalam paragraphs 8.291 dan 9.1(c) dari Panel Report, bahwa aturan kesehatan tanaman Jepang yang menjadi persoalan tidak ddasarkan bada suatu penilaian resiko, sebagaimana dwajibkan oleh Pasal 5.1 Perjanjian SPS;
(e) menemukan bahwa Panel tdak bertindak secara bertentangan dengan Pasal 11 DSU, berkenaan dengan analisisnya atas klaim AS enurut Pasal 2.2 Perjanjian SPS; dan
(f) menemukan bahwa masalah mengenai ketaatan Panel pada pasal 11 DSU, berkenaan dengan analisisnya atas klaim AS menurut Pasal 5.1 Perjanjian SPS, tidak dimunculkan oleh Jepang dalam Pembertahuan Bandingnya (Notice of Appeal) dan oleh karenanya tdak secara tepat berada di hadapan Appelate Body,. Secara demikian, Appellate Body tidak membuat temuan mengena masalah ini.

Appellate Body oleh karenanya merekomendasikan agar DSB meminta Jepang untuk membawa aturannya, yang ditemukan dalam Laporan ini dan Laporan Panel sebagaimana dkuatkan oleh Laporan ini, bertentangan denan kewajiban-kewajibannya menurut Perjanjian SPS, pada kesesuaian dengan Perjanjian itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s